Judul itulah yang disampaikan ibu Pormina Silaen pada saat beliau menjadi Pembina Upacara Senin, 4 Februari lalu.
Cerita tentang dua orang sahabat yang melakukan perjalanan jauh. Berselisih paham pada saat mereka berada di tepi pantai, sampai salah satu dari mereka menampar sahabatnya.
sahabat yang ditampar menuliskan isi hatinya di atas pasir:
“hari ini sahabat terbaikku mnampar aku”
mereka melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya tiba disebuah gurun yang terdapat oasis (sumber air). Karena letih dan haus, sahabat yang ditampar tadi mengambil air di oasis tersebut dan hampir terjatuh ke dalamnya.
Lalu ia ditolong oleh sahabatnya…
ia menulis kembali…
tapi kali ini tidak di atas pasir melainkan di atas batu:
“hari ini sahabat terbaikku menolong nyawaku”
sahabatnya heran melihatnya dan bertanya:
Mengapa saat aku menamparmu, kau tulis isi hatimu di atas pasir sedangkan saat aku menolongku, kau tulis isi hatimu di atas batu?
kemudian sahabat itu menjawab:
saat kamu menamparku, aku sakit hati dan kutumpahkan perasaanku di atas pasir… agar semua hilang bersama ombak… semua hanya sementara…
tapi saat kamu menyelamatkan nyawaku, kutumpahkan perasaan itu di atas batu, agar tulisan itu terpatri abadi selamanya dan orang lain bisa membacanya kembali bahwa sahabatku telah menyelamatkan aku….
Singkat, namun cerita itu begitu bermakna….
sahabat,….
dikala susah dan sesakit apapun hati kita akan perlakuan sahabat kita, hendaklah itu disimpan di hati dan kalaupun ingin dicurahkan, mengadulah pada sesuatu yang tiada orang lain tahu…
tapi dikala senang dan sekecil apapun jasa yang diberikan sahabat kepada kita, kenanglah dan ukir itu menjadi sesuatu yang abadi, tidak hanya di hati saja tapi juga yang bisa orang lain tahu…
Semoga kita bisa belajar dari cerita itu untuk bisa menjadi sahabat terbaik untuk orang-orang di sekitar kita.
Amin….